top of page

Proyek REDD+ Gerbang Barito di 2025: Tahun Penuh Perjuangan, Pembelajaran, dan Terobosan

  • 2 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

Tahun 2025 bukan tahun yang mudah bagi Proyek REDD+ Gerbang Barito. Banjir ekstrem, perubahan regulasi, dan ketidakpastian dalam lanskap pasar karbon menguji masyarakat dan kelembagaan yang ada. Di saat yang sama, tahun ini juga menjadi titik yang menguatkan pijakan tim. Ketika tim Wildlife Works tetap bertahan di tengah berbagai tantangan, kepercayaan masyarakat justru semakin dalam. Fondasi yang terbentuk pada tahun ini akan membentuk arah perjalanan proyek dalam jangka panjang.


Apa Yang Kami Pelajari di Tahun 2025


Banjir besar yang diperparah oleh perubahan iklim melanda desa-desa di wilayah proyek, mengganggu mata pencaharian dan membuat dampak krisis iklim terasa langsung dan personal. Di tengah situasi ini, terlihat dengan jelas kekuatan kelembagaan lokal, pentingnya kehadiran di saat krisis, serta peran suara anak muda dalam membentuk masa depan.

Salah satu refleksi yang muncul sepanjang tahun tersebut menggambarkan hal ini:


ā€œā€œ2025 bukan tahun yang mudah, tetapi tahun ni membuat kami lebih membumi. Kami menjadi lebih kuat, lebih sadar dalam mengambil langkah, dan lebih terhubung dengan masyarakat.ā€



Perlindungan Hutan yang Tumbuh dari Masyarakat


Salah satu capaian penting tahun 2025 adalah perubahan dalam sistem perlindungan hutan berbasis masyarakat. Lebih dari 100 pendaftar, sebanyak 22 anggota patroli terpilih melalui proses yang transparan dan didukung masyarakat. Mereka menjalani pelatihan bertahap yang mencakup keselamatan, navigasi, Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga pemetaan. Saat ini, tim patroli bekerja dengan jalur yang jelas, sistem pengumpulan data yang terstruktur, serta pengakuan formal dari pemerintah desa.


Tim patroli ini kini menjadi bagian penting dari tata kelola hutan.

ā€œSaya dulu sering melihat orang menebang pohon di desa saya. Beberapa bahkan tetangga saya sendiri,ā€ ujar Deni, 22 tahun, dari Batampang yang bergabung dengan tim patroli karena kepeduliannya terhadap hutan. ā€œAwalnya saya pikir itu hal biasa, tetapi kemudian saya sadar dampaknya besar bagi lingkungan. Hutan harus tetap ada untuk anak dan cucu kita.ā€





Di Saat Krisis, Kehadiran Menjadi Hal yang Paling Berarti


Ketika banjir memaksa warga meninggalkan rumah dan merendam permukiman, makna konservasi ikut berubah. Pos kesehatan darurat didirikan dan melayani ratusan pasien. Lebih dari 800 paket bantuan didistribusikan sepanjang tahun. Bidan, kader kesehatan, dan tim Wildlife Works Indonesia bekerja bersama di lapangan.


"Ada masa ketika konservasi tidak berbicara tentang karbon atau data. Kehadiran di saat rumah dan sumber penghidupan masyarakat hilang menjadi hal yang paling penting."





Fondasi Teknis untuk Jangka Panjang


Sepanjang tahun lalu, fondasi ilmiah proyek berhasil diperkuat. Survei keanekaragaman hayati mencatat lebih dari 60 spesies burung dan 25 spesies herpetofauna, serta estimasi kepadatan orangutan di area proyek.


Studi sosial ekonomi yang melibatkan lebih dari 250 rumah tangga menunjukkan kerentanan yang nyata. Hampir 70 persen rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan provinsi. Data ini menjadi dasar penting untuk memahami dampak proyek secara lebih menyeluruh.


Rekaman kamera jebak yang memperlihatkan orangutan di Gerbang Barito
Rekaman kamera jebak yang memperlihatkan orangutan di Gerbang Barito

Ketika Anak Muda Mulai Mengambil Peran


Salah satu perkembangan yang tidak terduga datang dari generasi muda. Melalui lomba menulis, taman membaca atau lebih dikenal sebagai sekolah karbon, dan pelatihan fotografi yang difasilitasi oleh tim Wildlife Works, anak muda mulai menceritakan pengalaman mereka sendiri tentang hidup di sekitar hutan.


Para tutor berkembang menjadi fasilitator yang percaya diri. Kelompok kreatif mulai terbentuk secara mandiri. Anak muda muncul sebagai penggerak komunikasi di tingkat komunitas.


ā€œKetika anak muda menemukan suara mereka, perlindungan hutan menjadi bagian dari cerita yang mereka bangun sendiri.ā€






Ā Perempuan dalam Menjaga Fondasi Budaya


Studi bersama kelompok perempuan menunjukkan beban besar yang mereka hadapi, sekaligus potensi kepemimpinan yang kuat. Perempuan berperan menjaga stabilitas rumah tangga saat krisis, memiliki pengetahuan ekologis, dan menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi yang terkait dengan konservasi.


Studi antropologi juga menegaskan bahwa proyek ini berada dalam lanskap budaya yang hidup. Nilai, keyakinan, dan praktik pengelolaan hutan telah lama terbentuk. Temuan ini menjadi dasar dalam merancang mekanisme benefit-sharing, FPIC (Free, Prior, Informed & Consent) dan tata kelola yang lebih kontekstual.





Fasilitas penitipan anak yang disediakan di Gerbang Barito membuka ruang agar lebih banyak perempuan dapat terlibat dalam pertemuan pengambilan keputusan di tingkat masyarakat.
Fasilitas penitipan anak yang disediakan di Gerbang Barito membuka ruang agar lebih banyak perempuan dapat terlibat dalam pertemuan pengambilan keputusan di tingkat masyarakat.


Kelembagaan yang Siap untuk Menjalankan Proyek REDD+


Kelembagaan pengelolaan hutan di tingkat desa mengalami penguatan signifikan. Penilaian Perhutanan Sosial dari pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa sistem tata kelola hutan desa di Batilap dan Batampang memperoleh kategori Sangat Baik. Hasil ini menunjukkan bahwa kelembagaan masyarakat siap menjalankan peran dalam REDD+ dengan kredibilitas dan kepercayaan diri.



Memahami Hutan Lewat Pemetaan Kanal


Hutan gambut menjadi bagian penting dari lanskap Proyek REDD+ Gerbang Barito. Ia berperan dalam penyimpanan karbon dan pengaturan tata air. Untuk melindungi ekosistem ini, pemahaman terhadap sistem hidrologi menjadi kunci.


Sepanjang paruh kedua tahun 2025, tim melakukan pemetaan kanal di kondisi lapangan yang menantang. Kedalaman, lebar, topografi, serta hambatan aliran air dicatat secara rinci. Pekerjaan ini mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi menjadi fondasi utama. Proyek gambut tidak dapat berjalan tanpa memahami bagaimana air bergerak di dalam lanskap.


Temuan ini kini menjadi dasar untuk perencanaan perlindungan dan restorasi gambut ke depan.


Anggota tim memetakan kanal sebagai bagian dari upaya memahami kondisi gambut di Gerbang Barito
Anggota tim memetakan kanal sebagai bagian dari upaya memahami kondisi gambut di Gerbang Barito

Ketika Gerbang Barito Menjadi Ruang Belajar


Tahun 2025 juga menandai perubahan penting. Gerbang Barito mulai menjadi tempat belajar bagi pihak lain. Kelompok Perhutanan Sosial dari Riau datang untuk bertukar pengetahuan tentang kesiapan REDD+, tata kelola, dan sistem patroli.


Pengakuan ini menunjukkan bahwa Gerbang Barito mulai dilihat sebagai model rujukan. Sebuah capaian yang lahir dari proses panjang membangun kelembagaan secara konsisten.


Kelompok Perhutanan Sosial dari Riau datang untuk belajar dan bertukar pengalaman tentang kesiapan Proyek REDD+ di Gerbang Barito
Kelompok Perhutanan Sosial dari Riau datang untuk belajar dan bertukar pengalaman tentang kesiapan Proyek REDD+ di Gerbang Barito

Melangkah ke 2026


Dengan fondasi yang telah terbentuk, tahun 2026 menjadi fase untuk memperkuat dan mengembangkan apa yang telah dimulai. Fokus ke depan mencakup proses registrasi VCS, penyelesaian PDD yang solid, penguatan kelembagaan, pengembangan platform komunikasi yang dipimpin anak muda, serta persiapan skema benefit-sharing yang kuat.


Seluruh langkah ini dibangun dari ketahanan yang ditunjukkan sepanjang 2025.


2025 menjadi tahun ketika Gerbang Barito menemukan pijakannya.


2026 akan menjadi tahun untuk melangkah lebih jauh, membawa keberanian, kesabaran, dan keyakinan bersama bahwa upaya ini memiliki arti.


Unduh laporan lengkapnya di sini


bottom of page