Membangun Ruang Belajar Melalui Sekolah Karbon di Gerbang Barito
- 15 Apr
- 4 menit membaca

Ā
Pada pagi akhir pekan di Desa Batilap atau Batampang, anak-anak sering datang bahkan sebelum sesi dimulai. Sebagian sudah membawa buku yang terbuka. Sebagian lain datang tanpa membawa apa pun, hanya dengan rasa ingin tahu tentang apa yang akan mereka temui hari itu. Taman Baca Wildlife Works atau yang dikenal masyarakat sebagai Sekolah Karbon, tidak mengikuti bel atau jadwal yang tetap. Ruang ini tumbuh dari anak-anak yang datang, lalu kembali lagi di waktu berikutnya.
Proses belajar di ruang ini tidak berawal dari rencana di atas kertas. Ia tumbuh dari orang-orang yang datang dan terus terlibat. Percakapan dan kesepakatan bersama perlahan membentuk arah ruang belajar ini. Materi berkembang, relasi pun terbangun seiring waktu. Sekolah Karbon tidak berjalan satu arah. Ia hidup dari keterlibatan bersama, dijaga oleh mereka yang terus hadir di dalamnya.
Ā
Dari Sekolah Karbon Menjadi Ruang Belajar Bersama
Ā
Sekolah Karbon bermula sebagai inisiatif membaca yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Batilap dan Batampang. Kegiatan ini diluncurkan secara resmi pada Mei 2024, melanjutkan aktivitas membaca yang sebelumnya telah berjalan di tingkat desa selama beberapa tahun. Tujuannya sederhana. Membuka ruang bagi anak-anak untuk membaca dan belajar bersama, sekaligus mengenal lingkungan di sekitar mereka.

Ā Seiring waktu, sesi-sesi ini berkembang dengan cara yang tidak selalu terduga. Cerita memunculkan pertanyaan. Pertanyaan membuka diskusi. Diskusi kemudian terhubung dengan sungai, hutan, dan keseharian.
Perkembangan ini kemudian membentuk apa yang kini dikenal sebagai Sekolah Karbon. Literasi dan pemahaman lingkungan berjalan berdampingan sejak awal. Apa yang dibaca dan dibicarakan anak-anak selalu dekat dengan apa yang mereka lihat setiap hari.
Konteks nasional memperlihatkan mengapa ruang seperti ini penting. Catatan PISA 2022 dari OECD menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca di Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya ruang belajar yang mudah diakses, di mana buku tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung langsung dengan pengalaman sehari-hari.
Sesi tetap berlangsung secara informal dan menyesuaikan ritme desa. Tidak ada jadwal yang kaku. Hingga 2025, Sekolah Karbon berjalan secara rutin di Batilap, Batampang, dan Dusun Simpang Telo, menunjukkan tumbuhnya minat dan keterlibatan dari masyarakat.Ā
Ā
Belajar Bersama, Saling Mendampingi
Ā
Tidak ada kurikulum formal dalam Sekolah Karbon. Proses belajar berlangsung melalui praktik langsung. Anak-anak membaca dengan suara keras, menggambar, bercerita, menyusun puzzle, dan berdiskusi.

Tema lingkungan diperkenalkan melalui hal-hal yang dekat dengan keseharian. Sampah rumah tangga, penggunaan energi, perubahan musim, hingga hutan di sekitar desa menjadi bagian dari percakapan.
Fasilitasi dilakukan oleh anggota masyarakat sendiri. Pada 2025, Sekolah Karbon berjalan bersama sekelompok kecil tutor perempuan dari desa, masing-masing membawa latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Sebagian besar tidak berasal dari dunia pendidikan formal dan memposisikan diri sebagai fasilitator, bukan pengajar.
Di tahap awal, sesi berjalan eksploratif. Kegiatan sering muncul secara spontan. Diskusi tidak selalu konsisten. Pola ini menjadi bagian dari proses belajar bersama. Antara Agustus hingga November 2025, para tutor mengikuti proses penguatan kapasitas yang dirancang bersama. Pendekatan ini dibangun dari pengamatan dan percakapan dengan para tutor, merespons langsung tantangan yang mereka hadapi, terutama dalam ruang belajar dengan rentang usia yang beragam.
Tujuannya bukan untuk menyeragamkan metode. Fokusnya pada membangun kepercayaan diri. Secara bertahap, sesi mulai memiliki alur yang lebih jelas. Para tutor mendapatkan alat praktis tanpa kehilangan fleksibilitas. Keseimbangan ini penting karena kapasitas dapat berkembang tanpa menggeser kepemilikan di tingkat masyarakat.
Ā
Perubahan yang Terlihat Seiring Waktu
Ā
Sepanjang 2025, perubahan mulai terlihat dengan lebih jelas. Partisipasi diperkirakan melibatkan sekitar 50 anak di Batampang, 30 anak di Batilap, dan 15 anak di Dusun Simpang Telo. Kehadiran bersifat terbuka dan bergantian, tidak tetap.
Anak-anak datang lebih awal dan bertahan lebih lama. Mereka yang sebelumnya diam mulai berbicara. Diskusi tidak lagi berhenti pada pengulangan informasi, tetapi mulai menghubungkan ide dengan pengalaman sehari-hari. Gambar, catatan singkat, dan cerita sederhana menjadi bagian dari hasil belajar.

Perubahan ini tidak diukur melalui tes atau angka. Ia terlihat melalui interaksi dan keterlibatan. Setiap desa awalnya memiliki 108 buku, kemudian bertambah melalui kontribusi masyarakat dan pihak luar. Di Batampang, jumlah buku meningkat hingga hampir 200 pada akhir 2025.
Perkembangan dipahami sebagai pola yang tumbuh, bukan angka yang harus dicapai. Pendekatan ini sejalan dengan sifat Sekolah Karbon sebagai ruang belajar berbasis masyarakat.
Ā Menyesuaikan dengan Realitas Desa
Pelaksanaan kegiatan mengikuti kondisi lapangan. Perbedaan pengalaman tutor, kehadiran yang berubah-ubah, serta keterbatasan ruang menjadi bagian dari proses. Kehadiran anak-anak dipengaruhi oleh jadwal sekolah, tanggung jawab di rumah, dan kondisi seperti banjir musiman. Ruang yang terbatas digunakan bersama oleh kelompok usia yang beragam.
Kondisi ini tidak diperlakukan sebagai hambatan. Ia menjadi bagian dari pembelajaran. Pelatihan tutor menanggapi perbedaan pengalaman fasilitasi. Dokumentasi disederhanakan, cukup berupa catatan singkat dan beberapa foto yang realistis untuk dibagikan dari lapangan. Pendekatan ini membuat kegiatan tetap berjalan dan berkembang seiring waktu.
Belajar yang Tumbuh Seiring Waktu
Sekolah Karbon menjadi bagian dari cara masyarakat terlibat dalam Proyek REDD+ Gerbang Barito. Pengenalan isu lingkungan sejak dini membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut menjaga hutan desa di masa depan.
Ruang belajar ini tumbuh dari masyarakat dan bersama mereka terus berkembang.
Melalui proses ini, Sekolah Karbon memperlihatkan bagaimana pembelajaran yang dibangun bersama, perlahan dan berakar pada konteks lokal, dapat menjaga keterlibatan dalam jangka panjang sekaligus merawat hutan.


