Di Antara Sungai dan Hutan: Kehidupan dan Budaya Masyarakat Dayak Bakumpai di Gerbang Barito
- 9 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Di tepian Sungai Barito, saat alirannya menyusuri hutan gambut, berdiri Desa Batampang dan Batilap. Kedua desa ini dihuni oleh masyarakat Dayak Bakumpai, kelompok Dayak yang identitasnya terbentuk dari generasi yang hidup berdampingan dengan sungai. Di sini, ritme hidup mengikuti pasang surut air, perubahan musim, dan ingatan yang diwariskan. Bagi mereka, sungai dan hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup berisi cerita, tanggung jawab, serta aturan tak tertulis yang membentuk keseharian.
Sungai menjadi jalur utama sejak dulu. Perahu bergerak membawa ikan, hasil hutan, dan orang yang berkunjung ke kerabat di hulu maupun hilir. Dari sungai, masyarakat Dayak Bakumpai belajar berpindah, berdagang, dan menyesuaikan diri. Sungai juga membuka pertemuan dengan kelompok Dayak lain, pedagang Banjar, hingga masuknya keyakinan baru. Proses ini membentuk identitas yang tetap berakar pada Dayak, namun berkembang melalui perjalanan sejarah yang berbeda.


Masyarakat Dayak Bakumpai tetap terhubung dengan dunia Dayak yang lebih luas. Akar bahasa, hubungan leluhur, serta pengetahuan ekologis masih sejalan dengan kelompok lain di sepanjang daerah aliran Sungai Barito. Bahasa yang digunakan dekat dengan Dayak Ngaju, sementara nilai adat tetap dijaga. Dalam perjalanannya, masyarakat Dayak Bakumpai menempati posisi yang khas. Mereka memeluk Islam, namun tetap menjalankan adat. Perubahan ini tidak menghapus identitas Dayak, melainkan menambah lapisan baru di atasnya.

Ritual mengalami perubahan bentuk, doa menggunakan bahasa berbeda, tetapi hubungan moral dengan tanah, sungai, dan leluhur tetap terjaga. Aturan adat mengatur waktu memasuki hutan, cara membuka lahan, serta pembagian hasil. Para tetua dihormati karena mereka menyimpan ingatan tentang banjir, kebakaran, batas wilayah, dan pengalaman masa lalu. Pengetahuan ini bersifat praktis, etis, dan melekat pada tempat.
Di Batampang dan Batilap, beberapa bagian sungai dan hutan dikenang sebagai ruang khusus. Penyebutannya dilakukan dengan hati-hati, kadang tidak langsung. Tempat-tempat ini diyakini memiliki penjaga, ruang di mana dunia terlihat dan tak terlihat saling berdekatan. Cerita tentang leluhur dan kekuatan penjaga diwariskan sebagai pengingat untuk menahan diri. Pesan ini mengajarkan kehati-hatian, sikap hormat, serta kesadaran bahwa alam bukan ruang kosong yang sepenuhnya dimiliki.
Sebelum memasuki kawasan hutan tertentu atau membuka lahan, masyarakat biasanya berhenti sejenak. Sebagian berkonsultasi dengan tetua, sebagian melakukan tindakan sederhana sebagai bentuk penghormatan. Praktik ini tidak bertujuan mengendalikan alam, melainkan hidup selaras di dalamnya. Larangan dan aturan tak tertulis menjadi batas yang menjaga agar pemanfaatan tidak berlebihan, bahkan sebelum dampaknya terlihat.

Kehidupan sehari-hari dibangun atas dasar kerja bersama. Area tangkap ikan digunakan bersama, hasil dibagi, dan tenaga saling dipertukarkan. Pemimpin adat membantu menyelesaikan persoalan melalui musyawarah dan keseimbangan. Perempuan memegang peran penting dalam mengelola rumah tangga dan ekonomi lokal. Generasi muda bergerak di antara pengetahuan yang diwariskan dan pengaruh modern, menjembatani keduanya dengan cara mereka sendiri.
Kisah Dayak Bakumpai juga mencerminkan pergerakan dan penyesuaian. Hidup di sepanjang sungai berarti terbuka pada perubahan, pada orang luar, dan pada cara hidup baru. Keterbukaan ini tidak menghilangkan identitas. Bahasa di rumah, cerita di waktu senggang, serta praktik yang diulang setiap hari menjaga kesinambungan tersebut. Menjadi Dayak Bakumpai bukan soal batas kaku, melainkan tentang memahami asal-usul sambil tetap bergerak ke depan.
Hari ini, Batampang dan Batilap menghadapi ketidakpastian yang semakin terasa. Pola cuaca berubah, musim kering memanjang, kebakaran hutan berlangsung lebih lama, dan tekanan ekonomi meningkat. Di tengah situasi ini, ketahanan tetap bertumpu pada pengetahuan yang diwariskan. Membaca tinggi muka air, mengenali tanda di hutan, mengandalkan kerja kolektif, serta menjaga hubungan sosial menjadi bagian penting dalam bertahan.
Kehidupan sehari-hari menghadirkan kesederhanaan yang penuh makna. Pagi hari di sungai. Jaring diangkat dengan tangan terlatih. Ikan diasinkan untuk persediaan. Percakapan berlangsung di beranda kayu, sementara anak-anak menyerap lebih banyak dari yang terlihat. Sejarah tidak ditulis di sini. Sejarah dijalani.


Batampang dan Batilap menunjukkan bahwa hutan bukan ruang kosong yang menunggu untuk diatur. Lanskap ini hidup, dibentuk oleh relasi antara manusia, alam, dan keyakinan. Masyarakat Dayak Bakumpai tidak memilih antara menjadi Dayak atau sesuatu yang lain. Identitas terbentuk melalui proses merajut leluhur, iman, sungai, dan hutan menjadi satu cara hidup yang terus berlangsung.
Saat matahari terbenam di atas Sungai Barito, pantulan cahaya memanjang di permukaan air, sementara hutan perlahan menggelap di tepinya. Sungai terus mengalir, seperti sejak dahulu. Di Batampang dan Batilap, kisah Dayak Bakumpai tetap berjalan. Tenang, kuat, berakar, dan terus berkembang.



