Para Penjaga Hutan Desa
- tamaraanisa4
- 8 Jan
- 2 menit membaca
Diperbarui: 15 Jan
Kisah Pembentukan Tim Patroli Desa Batilap dan Batampang
Di bulan Mei hingga September 2025, dua desa di wilayah Proyek REDD+ Gerbang Barito, yaitu Batilap dan Batampang, mengambil langkah penting untuk melindungi hutan mereka. Melalui proses perekrutan berbasis masyarakat, kedua desa kini memiliki tim patroli baru yang siap memantau, menjaga, dan melaporkan aktivitas di kawasan hutan desa.

Proses ini dimulai dari diskusi terbuka antara Wildlife Works Indonesia (WWI), pemerintah desa, dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Pertemuan itu memperkenalkan gagasan bahwa perlindungan hutan sebaiknya dipimpin oleh masyarakat sendiri. Mereka kemudian menyepakati tiga nilai utama yang harus dimiliki tim patroli, yaitu pengakuan dari masyarakat, anggota tim haruslah masyarakat yang tinggal di desa setempat, dan keberanian untuk bertindak ketika hutan terancam.
Dari Perekrutan hingga Pembentukan Tim Patroli
Saat perekrutan dibuka pada bulan Juli, sambutan masyarakat sangat besar. Hampir seratus orang mendaftar, menunjukkan semangat luar biasa masyarakat untuk melindungi hutan. Proses seleksi dilakukan secara menyeluruh melalui pemeriksaan administrasi, tes tertulis, wawancara, dan pemeriksaan kesehatan. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gerbang Barito juga terlibat dalam proses wawancara bersama tim WWI untuk memastikan seleksi berjalan adil dan terbuka.
Pada bulan Agustus, sebelas anggota terpilih dari masing-masing desa. Proses ini tidak hanya mencari orang yang mampu berpatroli, tetapi juga mereka yang benar-benar peduli terhadap hutan. Salah satunya adalah Deni, pemuda berusia 22 tahun dari Dusun Simpang Telo, Desa Batampang.
“Saya dulu sering melihat orang di desa menebang pohon,” kenang Deni. “Awalnya saya pikir itu hal biasa, tapi lama-lama saya sadar setiap kali pohon ditebang banjir datang lebih sering. Saya tidak ingin itu terus terjadi.”
Motivasi Deni sederhana namun memiliki makna yang dalam. Ia ingin menjaga hutan agar generasi berikutnya masih bisa menikmati manfaat hutan. “Hutan harus tetap hidup agar anak cucu kita bisa merasakannya juga,” ujarnya pelan.
Belajar Menjaga Hutan

Bagi Deni, menjadi anggota tim patroli bukan sekadar memakai seragam. Ia belajar cara baru untuk melihat dan melindungi hutan. Deni masih mengingat tes tertulis yang menurutnya menjadi bagian paling menantang dalam proses seleksi. “Saya sampai cari tahu tentang Wildlife Works di Google,” katanya sambil tertawa. “Saya ingin lebih siap.”
Pada bulan September, tim patroli baru mengikuti pelatihan pertama mereka. Mereka belajar menggunakan aplikasi AVENZA untuk peta geospasial dan ODK untuk mencatat data lapangan serta jalur patroli. Deni mengaku tidak kesulitan dengan teknologi baru itu. “Yang sulit bukan aplikasinya,” katanya. “Yang berat itu berjalan jauh di dalam hutan.”
Meski begitu, ia menganggap perjalanan patroli sebagai pengalaman berharga. “Kalau jalan bersama teman-teman jadi terasa lebih ringan,” katanya. “Kami saling bantu. Capek, tapi senang.”
Keluarganya pun bangga. Saat Deni dinyatakan lolos, orang tuanya sangat gembira. “Mereka bilang, akhirnya kamu punya pekerjaan yang benar-benar bermanfaat untuk desa,” ujarnya sambil tersenyum.
Harapan dari Dalam Hutan
Deni berharap tim patroli bisa sukses dan dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa hasil kerja mereka nyata. “Harapannya semoga tim patroli ini bisa sukses dan hasilnya bisa terlihat oleh masyarakat,” katanya.
Kini tim patroli Batilap dan Batampang sudah aktif beroperasi. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa perlindungan hutan paling efektif ketika dilakukan oleh orang-orang yang hidup paling dekat dengan hutan. Dari tangan mereka, semangat menjaga bumi tumbuh dari akar desa.







