top of page

Pelatihan Fotografi Mengajak Anak Muda Belajar Bercerita Lewat Foto

  • tamaraanisa4
  • 2 hari yang lalu
  • 3 menit membaca

Pada 25-26 Oktober 2025, sepuluh anak muda dan warga desa berkumpul di rumah Kepala Desa

Batampang selama dua hari, bukan untuk sekadar belajar memotret, tetapi untuk belajar bercerita lewat foto. Pelatihan fotografi yang difasilitasi oleh Wildlife Works Indonesia (WWI) dan Mering sebagai trainer ini diikuti oleh peserta terpilih dari proses seleksi terbuka. Menggunakan ponsel sebagai alat utama, pelatihan ini dirancang bagi mereka yang sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan fotografi sebelumnya, sekaligus membuka ruang untuk melihat dan merekam kehidupan desa dari sudut pandang mereka sendiri.


Peserta pelatihan fotografi bersama trainer, Mering (tengah)
Peserta pelatihan fotografi bersama trainer, Mering (tengah)

Datang dengan Rasa Ingin Tahu

Para peserta datang dengan latar belakang yang beragam. Sebagian masih duduk di bangku sekolah menengah, sebagian lainnya adalah ibu rumah tangga dan pemuda desa. Alasan mereka mengikuti pelatihan pun berbeda. Ada yang tertarik karena ingin mencoba hal baru, ada yang ingin belajar memotret dengan lebih baik, dan ada pula yang ingin menunjukkan potensi desanya melalui foto.


Arfin, salah satu peserta termuda, mengaku selama ini hanya memotret untuk keperluan media sosial. Ia mendaftar karena penasaran dan ingin tahu bagaimana cara memotret yang lebih baik. Dari tiga foto yang ia kirim saat pendaftaran, Arfin memilih foto kantong semar di hutan. “Saya pilih itu karena jarang diperhatikan orang,” katanya.


Dewi, peserta berusia 37 tahun, awalnya ragu bisa mengikuti pelatihan ini. Sehari-hari ia lebih banyak mengurus rumah dan jarang memotret. Namun dua hari pelatihan membuatnya menemukan pengalaman baru. “Saya jadi lebih paham cara memotret dan lebih percaya diri mencoba,” ujarnya.


Karlina, siswi SMA, tertarik mengikuti pelatihan karena ingin memperlihatkan kampung halamannya kepada orang luar. Ia sering memotret matahari terbenam dan menyimpan hasilnya untuk koleksi pribadi. Melalui pelatihan ini, ia belajar memperhatikan cahaya dan komposisi dengan lebih sadar.

Sementara itu, Matnor mengikuti pelatihan karena ingin memotret lebih dari sekadar pemandangan. Ia tertarik mengabadikan budaya dan kehidupan desa.

 

 

Belajar Dasar-dasar Fotografi

Pelatihan dimulai dengan sesi pemanasan. Peserta diminta membuka galeri ponsel mereka dan menunjukkan foto terakhir yang diambil, lalu menceritakan alasannya. Latihan ini digunakan untuk mencairkan suasana dan menekankan bahwa fotografi berangkat dari cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Pada sesi materi, Mering memperkenalkan dasar fotografi menggunakan ponsel, mulai dari cara memegang perangkat agar stabil, memilih fokus, menunggu cahaya yang tepat, hingga memahami komposisi sederhana seperti rule of thirds  dan leading lines. Menurut Mering, pelatihan ini memang dirancang sederhana agar peserta bisa langsung mempraktikkan materi dengan alat yang mereka miliki. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang jurnalisme, Mering terbiasa bekerja dengan pendekatan yang membumi dan mudah dipahami, terutama ketika berbagi pengetahuan dengan masyarakat desa.

 

Memotret Lingkungan Sekitar sebagai Cerita

Setelah sesi di dalam ruangan, peserta melanjutkan praktik lapangan. Mereka bergerak ke area sungai di sekitar desa dan pada sore hari menaiki kelotok menuju area dekat Hutan Keranen. Di lokasi ini, peserta diminta mengambil lima foto yang menurut mereka dapat bercerita tentang tema “Rumah Kita, Cerita Kita.”

Pada tahap awal praktik, sebagian peserta masih mengalami kendala seperti hasil foto yang kurang fokus atau pencahayaan yang belum tepat. Melalui pendampingan langsung, peserta mulai memahami proses memotret secara lebih terstruktur. Mering mendampingi peserta dengan memberikan arahan dan pertanyaan reflektif agar mereka dapat memperbaiki hasil foto secara mandiri. Sebagai orang Dayak yang tumbuh dan bekerja lama di Kalimantan, Mering memahami lanskap hutan, sungai, serta konteks sosial yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta.


Hari kedua pelatihan sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat hujan. Selama menunggu cuaca membaik, peserta mengulang kembali materi dasar yang telah dipelajari. Sore harinya, peserta kembali memotret di sekitar lokasi pelatihan dan kemudian berkumpul untuk mendiskusikan hasil karya mereka. 


Di akhir sesi, Wildlife Works Indonesia mengadakan kompetisi foto kecil-kecilan. Para peserta memilih foto terbaik melalui voting bersama. Matnor dari Batampang terpilih sebagai pemenang melalui foto pohon balangiran  yang ia ambil pada hari pertama pelatihan.


Foto hasil karya Matnor
Foto hasil karya Matnor

Di Akhir Pelatihan

Bagi Mering, perubahan peserta terlihat jelas selama dua hari pelatihan. Selama bertahun-tahun, ia mendedikasikan waktunya untuk berbagi pengetahuan tentang jurnalisme warga dan bercerita dari perspektif masyarakat lokal, sehingga ia terbiasa melihat proses belajar yang berangkat dari pengalaman peserta sendiri. “Saya melihat peserta cepat menangkap materi dan langsung mencoba kembali teknik yang dipelajari,” ujarnya. Menurutnya, ruang belajar kreatif seperti ini penting bagi generasi muda karena memberi mereka kesempatan mengembangkan keterampilan dan mengambil peran lebih aktif dalam kehidupan desa.

 


Sebagian besar peserta juga mengaku baru pertama kali masuk ke area hutan desa. Praktik di dekat kawasan hutan memberi mereka pengalaman langsung untuk melihat potensi yang dimiliki desa mereka.



Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik fotografi, tetapi juga cara baru dalam memperhatikan lingkungan sekitar. Desa tidak lagi sekadar menjadi latar, melainkan sumber cerita yang dapat direkam dan dibagikan melalui foto.

 

bottom of page