Ruang Kecil yang Membuka Partisipasi Perempuan Menjadi Lebih Besar
- tamaraanisa4
- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Di sudut ruangan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Ibnul Amin, beberapa anak terlihat sibuk mewarnai. Ada yang melipat kertas warna-warni, ada yang mendengarkan cerita, ada pula yang asyik bermain bersama tutor. Suasananya ramai, tetapi bukan riuh. Di ruang yang sama, para ibu duduk berdiskusi dengan tenang.

Pemandangan ini menjadi bagian dari lokakarya Penilaian Dampak Sosial dan Keanekaragman Hayati (Social Biodiveristy Impact Assesment/ SBIA) yang berlangsung selama dua hari di Desa Batampang. Untuk pertama kalinya, Wildlife Works Indonesia (WWI) menyiapkan ruang penitipan anak sederhana agar para ibu dapat mengikuti diskusi tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak mereka.

Kehadiran ruang penitipan anak ini bukan kebetulan. Dalam rangkaian diskusi sebelumnya, para perempuan menyampaikan keinginan untuk terlibat lebih aktif dalam diskusi proyek REDD+ Gerbang Barito. Namun, ada satu tantangan yang terus berulang, kebingungan menitipkan anak selama kegiatan berlangsung.
Beberapa ibu memilih tidak datang karena tidak ada yang menjaga anak di rumah. Ada pula yang hadir, tetapi tidak bisa fokus karena anak ikut dan khawatir mengganggu jalannya pertemuan. Masukan-masukan inilah yang kemudian ditanggapi oleh WWI dengan menyiapkan ruang penitipan anak selama lokakarya SBIA yang dilaksanakan pada 16-17 Desember 2025.
Selama dua hari kegiatan, anak-anak ditemani oleh para tutor Taman Baca atau yang lebih dikenal sebagai tutor Sekolah Karbon yang menjadi relawan. Berbagai aktivitas disiapkan agar anak-anak tetap sibuk dan merasa nyaman. Ada kertas mewarnai, gunting, lem, kertas lipat warna-warni, buku cerita, serta permainan sederhana yang dilakukan bersama tutor.

Bagi Neti dari Desa Batilap, kehadiran penitipan anak membuat perbedaan besar. “Kegiatan WWI sebelumnya saya juga tidak datang karena tidak ada yang menjaga anak di rumah,” ujarnya. “Makanya kemarin anak memang tidak ikut, tapi hari ini saya bawa karena sudah tahu ada tempat untuk anak-anak dan ada yang menjaga.”

Ia merasa lebih tenang mengikuti diskusi karena tahu anaknya aman dan terpantau. “Menurut saya, fasilitas seperti ini sangat membantu. Kalau ada yang menjaga anak, saya jadi lebih tenang mengikuti kegiatan,” kata Nety. “Anak saya juga senang diajak ke sini.”
Pengalaman serupa dirasakan Atik dari Desa Batampang. Sebelumnya, ia beberapa kali harus melewatkan undangan kegiatan karena tanggung jawab di rumah.

“Dulu saya pernah diundang, tapi yang datang anak saya yang besar. Waktu itu saya sibuk, harus jaga orang tua dan anak yang masih kecil,” katanya. “Kalau ada bapaknya mungkin saya bisa pergi. Karena tidak ada, jadi susah.”
Pada hari lokakarya SBIA, ia akhirnya bisa datang dengan membawa anaknya. “Saya datang bawa anak. Saya tidak tahu kalau ada penitipan anak di sini,” ujarnya. “Ternyata anak saya betah, karena ada teman-temannya.”
Dengan adanya penitipan anak, ia merasa lebih tenang mengikuti diskusi. “Dengan ada penitipan anak, saya jadi lebih tenang. Anak dijagain, ada gurunya juga,” tambahnya. “Anak saya ikut Sekolah Karbon juga setiap minggu. Rumah kami dekat dengan guru-gurunya.”

Nikmah, dari Desa Batilap, juga merasakan manfaat yang sama. “Saya senang ada tempat penitipan anak. Jadi tidak mengganggu konsentrasi kami saat ikut acara,” katanya.
“Awalnya ada rasa khawatir, takut anaknya jatuh atau keluar. Tapi karena masih bisa dilihat saat istirahat, jadi lebih tenang.”
Menurutnya, penitipan anak sangat membantu, terutama untuk kegiatan yang berlangsung seharian. “Kalau ada penitipan anak, kami bisa lebih fokus ikut acara tanpa terus khawatir sama anak,” ujar Nikmah.
“Besok saya rencananya datang lagi dan membawa anak. Rasanya lebih tenang karena anak bisa dititipkan dan tetap bisa kami lihat. ”Dengan hadirnya ruang penitipan anak, suasana diskusi juga terasa berbeda. Para ibu dapat duduk lebih lama, mengikuti alur pembahasan, dan menyampaikan pendapat tanpa harus bolak-balik memerhatikan anak. Ruang kecil ini memberi dampak yang lebih besar pada kualitas percakapan yang terjadi di dalam forum.
Bagi Wildlife Works Indonesia, penyediaan penitipan anak ini menjadi bagian dari proses belajar bersama. Dalam konteks proyek berbasis masyarakat, partisipasi bukan hanya soal hadir di ruangan, tetapi juga tentang siapa yang bisa fokus, siapa yang merasa cukup aman untuk berbicara, dan siapa yang akhirnya didengar. Mendengarkan masukan perempuan tidak berhenti pada diskusi, tetapi diterjemahkan ke dalam perubahan cara kegiatan dirancang. Ruang penitipan anak bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan upaya memastikan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat.
Lokakarya SBIA di Batampang menunjukkan bahwa partisipasi tidak selalu membutuhkan solusi besar. Seperti halnya proses SBIA, terkadang, perubahan kecil yang lahir dari mendengarkan justru membuka ruang yang lebih luas bagi suara-suara yang selama ini tertahan.
Dan dari ruang kecil tempat anak-anak bermain itulah, diskusi tentang masa depan hutan dapat berlangsung dengan lebih tenang.








