top of page

Suara Masyarakat tentang Masa Depan Hutan

  • tamaraanisa4
  • 22 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

Di banyak desa, biasanya rapat mengenai kondisi hutan sering terasa seperti urusan orang luar, sehingga suara masyarakat jarang diperhitungkan. Ada agenda, ada materi, lalu masyarakat diminta setuju dengan menandatangani sebuah dokumen.


Di lokakarya yang diselenggarakan Wildlife Works Indonesia (WWI) bersama masyarakat Desa Batilap dan Batampang, ceritanya berbeda. Bertempat di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Ibnul Amin, Batampang, pada 16–17 Desember 2025 dilaksanakan Penilaian Dampak Sosial dan Keanekaragaman Hayati (Social and Biodiversity Impact Assessment atau SBIA). Proses ini tidak dilakukan secara tertutup, melainkan melalui lokakarya partisipatif yang melibatkan lebih dari 70 orang, terdiri dari 33 perempuan dan 45 laki-laki.




 

Peserta datang dari berbagai kelompok seperti pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), perwakilan masyarakat adat dan lokal, pemerintah desa, kelompok perempuan, pemuda, hingga tokoh masyarakat lainnya.


SBIA bertujuan sederhana, tetapi penting. Melalui diskusi terbuka, masyarakat diajak mengidentifikasi isu sosial dan lingkungan yang paling mendesak, membayangkan risiko yang mungkin muncul jika proyek tidak berjalan, serta menyusun Theory of Change, atau rencana perubahan yang lahir dari cara pandang mereka sendiri. Dengan begitu, arah proyek REDD+ Gerbang Barito tidak datang dari luar, melainkan terbentuk dari pemahaman bersama tentang kehidupan sehari-hari di desa.


Selama lokakarya, fasilitator memulai dengan satu pertanyaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat:


“Apa harapan Bapak Ibu dari menjaga hutan ini?”


Pertanyaan sederhana itu membuka diskusi panjang. 


Untuk membantu membahas harapan tersebut, tim WWI menggunakan metode pohon harapan. Melalui visual sederhana berbentuk pohon, peserta diajak melihat hubungan antara harapan, persoalan, dan dampak yang mereka rasakan sehari-hari. Cara ini membantu diskusi berjalan lebih terstruktur, tanpa terasa rumit.



Setelah harapan dituliskan, diskusi tidak berhenti di sana. Melalui visual pohon harapan, peserta diajak melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membahas persoalan-persoalan yang dapat menghalangi harapan tersebut tercapai. Dari sana diskusi bergerak untuk menelusuri sebab-sebab yang selama ini dirasakan di lapangan, sebelum kemudian memikirkan langkah yang bisa dilakukan bersama. 


“Dengan cara seperti ini, rasanya pendapat kami didengar. Apa yang kami bilang ditulis dan dimasukkan ke diskusi,” ujar Rista dari Desa Batampang, yang baru pertama kali mengikuti kegiatan Wildlife Works.


Bagi Jainudin dari Desa Batilap, proses ini membuka ruang diskusi yang terasa berbeda. “Baru pertama kali ikut diskusi model seperti ini. Soalnya kita diajak mencari akar masalah, bukan cuma dengar materi,” ujarnya.


SBIA tidak hanya mengumpulkan data, tetapi membantu masyarakat melihat kembali hubungan antara hutan, penghidupan, dan kesejahteraan. Mereka bukan lagi penonton, melainkan ikut merancang arah masa depan.


Baca artikel ini jika ingin tahu lebih lengkap mengenai lokakarya SBIA yang pernah dilakukan oleh Wildlife Works.


Hari pertama, beberapa peserta masih tampak bingung. Ada yang saling berbisik pelan sambil melihat dinding gambar pohon yang mulai penuh kertas dan catatan warna-warni.


Bagi sebagian peserta, metode diskusi yang digunakan terasa berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Proses ini membutuhkan waktu untuk dipahami, tetapi pelan-pelan peserta mulai mengikuti alurnya.


Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh mereka yang baru pertama kali terlibat dalam diskusi dengan pendekatan partisipatif. “Ini pertama kali ikut acara seperti ini. Tapi setelah tanya-tanya yang lain saya mulai paham,” ujar Sihan, peserta dari Desa Batampang.


Sesi berikutnya menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan isu yang menurut mereka paling penting. Diskusi berjalan cair dan saling menanggapi. Fasilitator menuliskan semua masukan tanpa menghapus atau menyaring. Setiap suara dicatat, lalu dibahas bersama.



Memasuki hari kedua, proses diskusi berlanjut dengan lebih terstruktur. Seluruh peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk membahas tema-tema yang berbeda, yakni kebakaran hutan, penebangan hutan, kesehatan dan pendidikan, kelembagaan, serta ekonomi.


Didampingi fasilitator dan co-fasilitator dari WWI, para peserta berdiskusi lebih mendalam sesuai dengan tema kelompoknya. Mereka melakukan pemetaan masalah sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor pendukung yang berkaitan dengan isu tersebut. Dari proses ini, setiap kelompok menyusun daftar kegiatan prioritas yang dinilai dapat menjawab persoalan yang mereka hadapi.

 


Di akhir hari, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya melalui perwakilan kelompok. Peserta dari kelompok lain diberi ruang untuk bertanya, memberikan masukan, serta menanggapi gagasan yang disampaikan.


Di sinilah arti penting SBIA bagi Wildlife Works Indonesia. Bagi masyarakat desa, proses ini juga menjadi ruang belajar bersama. “Kegiatan seperti ini penting supaya masyarakat lebih paham, terutama soal hutan desa,” ujar Jainudin. “Banyak yang masih salah persepsi. Mereka pikir kita tidak boleh masuk hutan, atau hutan dijual.”


Proses ini memastikan bahwa masyarakat ikut menentukan arah proyek. Keputusan tentang hutan tidak berhenti pada tanda tangan. Keputusan lahir dari percakapan, dari perdebatan kecil, dan dari keberanian menyampaikan pendapat.



Lokakarya SBIA di Desa Batampang belum menyelesaikan semua persoalan. Masih ada diskusi lanjutan dan keputusan yang perlu dibicarakan bersama. Namun satu perubahan sudah terasa. Pelan-pelan, masa depan hutan mulai dibicarakan oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya.

 

Dan mungkin, itulah langkah pertama yang paling penting. Seperti kata Jainudin, “Capek sih, tapi capeknya bareng-bareng.”


 

 

 

 

 

bottom of page